Terapi pemberian Obat ARV
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Acquired immune deficiency
syndrome (AIDS) adalah suatu kumpulan gejala penyakit kerusakan sistem
kekebalan tubuh, buka penyakit bawaan tetapi di dapat dari hasil penularan.
Penyakit ini di sebabkan oleh human immunodefeciency virus (HIV). Penyakit ini
telah menjadi masalah internasional karena dalam waktu yang relatif singkat
terjadi peningkatan jumlah pasien dan semakin melenda banyak negara. Sampai
sekarang belum ditemukan vaksin atau obat yang relatif efektif untuk AIDS
sehingga menimbulkan keresahan didunia.Infeksi HIV (Human Immunodeficiency
Virus) adalah suatu infeksi oleh salah satu dari 2 jenis virus yang secara
progresif merusak sel-sel darah putih yang disebut limfosit,
menyebabkan AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) dan penyakit
lainnya sebagai akibat dari gangguan kekebalan tubuh.
Kasus HIV/AIDS di indonesia semakin
meningkat. Di indonesia sejak tahun 1999 telah terjadi
peningkatan jumlah orang dengan HIV/AIDS (ODHA) pada sub populasi
tertentu di beberapa provinsi yang memang mempunyai prevalensi HIV cukup
tinggi. Peningkatan ini terjadi pada kelompok orang yang berperilaku beresiko
tinggi tertular HIV yaitu para pekerja seks komersial dan penggunaan suntikan
NAPZA, bukan hanya itu penularan terhadap ibu ke janinnya juga kini semakin
marak terjadi.Komulatif kasus AIDS diperkirakan sampai pada jumlah
93.968-130.000 pada tahun 2002. Pada tahun 2010, diperkirakan 1-5 juta kasus
infeksi HIV di indonesia dari jumlah tersebut diperkirakan sebanyak 10.000 ODHA
yang membutuhkan ART (Anteretroviral theraphy) segera.
1.2
Rumusan
Masalah
1.
Bagaimana tatalaksana setelah
diagnosis HIV ditegakkan?
2.
Apa pengertian, tujuan,
dan manfaat pemberian ARV?
3.
Apa saja golongan obat
ARV?
4.
Bagaimana tatalaksana
pemberian ARV?
5.
Apa saja regimen obat
ARV?
6.
Apa saja alasan
penggantian obat ARV?
7.
Apa saja efek samping
yang ditimbulkan oleh ARV?
1.3
Tujuan
Penulisan
1. Untuk
mengetahui tatalaksana setelah diagnosis HIV ditegakkan.
2. Untuk
mengetahui pengertian, tujuan, dan manfaat pemberian ARV.
3. Untuk
mengetahui golongan obat ARV.
4. Untuk
mengetahui tatalaksana pemberian ARV.
5. Untuk
mengetahui regimen obat ARV.
6. Untuk
mengetahui alasan penggantian obat ARV.
7. Untuk
mengetahui efek samping obat ARV.
1.4
Manfaat
Dengan adanya
makalah ini, diharapkan mahasiswa mampu dapat menambah wawasan dan informasi
dalam memberikan terapi Arv pada pasien ODHA dan mampu mengaplikasikan dalamasuhan keperawatan pada pasien atau
klien tanpa ada kekeliruan dalam melakukan tindakan keperawatan.
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Tatalaksana
Setelah Diagnosis Infeksi HIV Ditegakkan
Menurut Kementerian Kesehatan RI
(2011) dalam Pedoman Nasional Tatalaksana Klinis Infeksi HIV dan Terapi
Antiretroviral pada Orang Dewasa, setelah dinyatakan terinfeksi HIV maka pasien
perlu dirujuk ke layanan PDP untuk menjalankan serangkaian layanan yang
meliputi penilaian stadium klinis, penilaian imunologis dan penilaian virologi.
Hal tersebut dilakukan untuk menentukan apakah pasien sudah memenuhi syarat
untuk terapi antiretroviral, menilai status supresi imun pasien, menentukan
infeksi oportunistik yang pernah atau yang sedang terjadi, dan menentukan
panduan obat ARV yang sesuai.
1. Penialaian
stadum klinis
Stadium klinis harus dinilai pada
saat kunjungan awal dan setiap kali kunjungan untuk penentuan terapi ARV dengan
lebih tepat waktu.
2. Penilaian
imunologi (pemeriksaan jumlah CD4)
Jumlah CD4 adalah cara untuk
menilai status imunitas ODHA. Pemeriksaan CD4 melengkapi pemeriksaan klinis
untuk menentukan pasien yang memerlukan pengobatan profilaksis IO dan terapi
ARV. Rata-rata penurunan CD4 adalah sekitar 70-100 sel/mm3/tahun, dengan
peningkatan setelah pemberian ARV antara 50-100 sel/mm3/tahun.
3. Pemeriksaan
laboraturium sebelum memulai terapi
Pada dasarnya pemantauan laboraturium bukan
merupakann persyaratan mutlak untuk menginisiasi terapi ARV. Pemeriksaan CD4
dan viral load juga bukan kebutuhan mutlak dalam pemantauan pasien yang
mendapat terapi ARV, namun pemantauan laboraturium atas indikasi
gejala yang ada sangat dianjurkan untuk membantu keamanan dan toksisitas pada
ODHA yang menerima terapi ARV. Hanya apabila sumber daya memungkinkan untuk
dilakukan tes dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan pada pasien tertentu untuk
mengkonfirmasi adanya gagal terapi menurut kriteria klinis dan imunologis.
Pemeriksaan yang dapat dilakukan
seperti:
a. Darah
lengkap
b. Jumlah
CD4
c. SGOT/SGPT
d. Kreatinin
serum
e. Urinalisa
f. HbsAg
g. Anti-HCV
(untuk ODHA IDU atau riwayat IDU)
h. Profil
lipid serum
i. Gula
darah
j. VDRL/TPHA/PRP
k. Rontgen
dada
l. Tes
kehamilan
m. PAP
smear/IFA-IMS
n. Jumlah
virus/Viral load RNA HIV
4. Persyaratan
lain sebelum memulai ARV
Sebelum mendapat terapi ARV pasien harus
dipersiapkan secara matang dengan konseling kepatuhan yaitu sebagai berikut:
a.
Untuk mencapai supresi
virus yang optimal, setidaknya 95% dari semua dosis tidak boleh terlupakan.
b.
Resiko kegagalan terapi
timbul jika lupa minum obat.
c.
Diadakan konseling
kepatuhan secara terus menerus dan berulang.
d.
Melakukan pemeriksaan
fisik.
5. Pengobatan
pencegahan kotrimaksasol (PPK)
Beberapa infeksi oportunistik (IO) pada ODHA dengan
dicegah dengan pemberian pengobatan profilaksis terdapat dua macam pengobatan
pencegahan yaitu promaksis primer dan sekunder.
a.
Profilaksis primer
adalah pemberian pengobatan pencegahan untuk mencegah suatu infeksi yang belum
pernah diderita.
b. Profilaksis
sekunder adalah pemberian pengobatan pencegahan yang ditujukan untuk mencegah
berulangnya suatu infeksi yang pernah diderita sebelumnya.
2.2
Pengetahuan
Dasar Tentang ARV
2.2.1
Defenisi
ARV
Terapi antriretroviral (ART)
berarti mengobati infeksi HIV dengan beberapa obat. Karena HIV adalah
retrovirus, obat ini biasa disebut sebagai obat Antiretroviral (ARV). ARV ini
tidak membunuh virus itu, namun ARV dapat melambatkan pertumbuhan virus. Waktu pertumbuhan
virus dilambatkan, begitu pula dengan penyakit itu (Siti Anisa Husnu, 2013).
ART merupakan singkatan dari terapi
antiretroviral, yaitu suatu pengobatan infeksi viral seperti HIV
dengan obat antiretroviral, sedangkan ARV merupakan singakatan dari
atntiretroviral yaitu obat atau agen yang menghentikan atau menghambat
aktivitas retrovirus sperti HIV (Levi strauss, 2011).
2.2.2
Tujuan
Pengobatan ARV
1. Mengurangi
laju penularan HIV di masyarakat.
2. Memulihkan
dan/atau memelihara fungsi imunologis (stabilisasi/ peningkatan sel CD4).
3.
Menurunkan komplikasi
akibat HIV
4. Memperbaiki
kualitas hidup ODHA
5. Menekan
replikasi virus secara maksimal dan secara terus menerus
6. Menurunkan
angka kesakitan dan kematian yang berhubungan dengan HIV
2.2.3
Manfaat Pengobatan ARV
1.
Menurunkan merbiditas
dan mortalitas
2.
Pasien dengan ARV tetap
produktif
3.
Memulihkan sistem
kekebalan tubuh sehingga kebutuhan profilaksis infeksi oportinistik berkurang
atau tidak perlu lagi
4.
Mengurangi penularan
karena viral load menjadi rendah atau tidak terdeteksi, namun harus dipandang
tetap menular
5.
Mengurangi biaya rawat
inap dan terjadinya yatim piatu
6.
Mendorong ODHA untuk
meninta tes HIV atau mengungkapkan status HIV-nya secara sukarela.
2.3
Golongan
Obat ARV
Menurut Kementerian Kesehatan RI
(2011) dalam Pedoman Nasional Tatalaksana Klinis Infeksi HIV dan Terapi
Antiretroviral pada Orang Dewasa, obat ARV terdiri atas tiga golongan utama,
yaitu:
1.
NRTI
(Nucleiside Reverse Transcriptase Inhibitor)
NRTI bekerja dengan menghambat
enzim reverse transkriptase selama proses transkripsi RNA virus pada
DNA pejamu. Analog NRTI akan mengalami fosforilasi menjadi bentuk trifosfat,
yang kemudian secara kompetitif mengganggu transkripsi nukleotida. Akibatnya
rantai DNA virus akan mengalami terminasi.Jenis ARV yang termasuk golongan NRTI
adalah sebagai berikut:
a. 3TC
(lamivudine)
b. Abacavir
(ABC)
c. AZT
(ZDV, zidovudine)
d. d4T
(stavudine)
e. ddI
(didanosine)
f. Emtricitabine
(FTC)
g. Tenofovir(TDF;analog
nukleotida)
2.
NNRTI
(Non-Nucleiside Reverse Transcriptase Inhibitor)
NNRTI bekerja dengan cara berikatan
dengan enzim reverse transcriptase sehingga dapat memperlambat kecepatan
sintesis DNA HIV atau menghambat replikasi (penggandaan) virus.Jenis ARV yang
termasuk golongan NNRTI adalah sebagai berikut:
a. Efavirenz
(EFV)
b. Nevirapine
(NVP)
3. PI (Protease Inhibitor)
PI
bekerja dengan cara menghambat protease HIV. Setelah sintesis mRNA dan
poliprotein HIV, protease HIV akan memecah poliprotein HIV menjadi sejumlah
protein fungsional. Dengan pemberian PI, produksi virion dan perlekatan dengan
sel pejamu masih terjadi, namun virus gagal berfungsi dan tidak infeksius
terhadap sel.Jenis ARV yang termasuk golongan protease inhibitor adalah sebagai
berikut:
a. Lopinavir/ritonavir
(LPV/r)
b. Saquinavir
(SQV)
c. Indinavir
(IDV)
d.
Nelfinafir (NFV)
2.4
Tatalaksana
Pemberian ARV
Menurut Kementerian Kesehatan RI
(2011) dalam Pedoman Nasional Tatalaksana Klinis Infeksi HIV dan Terapi
Antiretroviral pada Orang Dewasa, tatalaksana pemberian ARV adalah sebagai
berikut :
1. Saat
memulai terapi ARV
Untuk memulai terapi antiretroviral
perlu dilakukan pemeriksaan jumlah CD4 (Bila tersedia) dan penentuan stadium
klinis infeksi HIV-nya. Hal tersebut adalah untuk menentukan apakah pendrita
sudah memenuhi syarat terapi antiretroviral atau belum. Berikut ini adalah
rekomendasi cara memulai terapi ARV pada ODHA dewasa.
a. Tidak
tersedia pemeriksaan CD4.
Dalam hal tidak tersedia pemeriksaan CD4, maka
penentuan mulai terapi ARV adalah didasarkan pada penialaian klinis.
b. Tersedia
pemeriksaan CD4:
1)
Mulai terapi ARV
pd pasien dg CD4 <350 sel/mm3 tanpa memandang stadium
klinisnya
2)
Terapi ARV dianjurkan
pd pasien dg TB aktif, ibu hamil dan
koinfeksi Hep B tanpa memandang jumalh CD4.
koinfeksi Hep B tanpa memandang jumalh CD4.
2. Memulai
terapi ARV pada keadaan Infeksi Oportunistik (IO) yang aktif
Infeksi oportunistik dan penyakit
terkait HIV lainnya yang perlu pengobatan atau diredakan sebelum terapi ARV
dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.
|
Jenis
infeksi oportunistik
|
Rekomendasi
|
|
a. Profresif
miltifocal leukoencephalopathy, sarkoma kaposi, Mikrosporidiosis, CMV,
kriptosporidiosis
b. Tuberkolosis,
PCP, kriptokokosis, MAC.
|
a. ARV diberikan
langsung setelah diagnosis infeksi ditegakkan
b. ARV diberikan
setidaknya 2 minggu setelah pasien mendapatkan pengobatan Infeksi
Oportunistik.
|
3. Prinsip
pemberian ARV
a. Paduan
obat ARV harus menggunakan 3 jenis obat yg terserap dan berada dalam dosis
terapeutik untuk menjamin efektivitas penggunaan obat
b. Membantu
pasien agar patuh minum obat antara lain dg mendekatkan akses pelayanan ARV
c. Menjaga
kesinambungan ketersediaan obat ARV dengan menerapkan manajemen logistik yg
baik.
2.5
Regimen
Pengobatan ARV
Menurut Kementerian Kesehatan RI
(2011) dalam Pedoman Nasional Tatalaksana Klinis Infeksi HIV dan Terapi
Antiretroviral pada Orang Dewasa, regimen pengobatan ARV yaitu:
1. ARV
lini pertama
ARV lini pertama dikonsumsi oleh penderita yang
sudah memenuhi syarat minum ARV. Yang termasuk ARV lini pertama adalah sebagai
berikut:
a. zidovudin
(AZT) 100mg
b. lamivudin
(3TC) 150mg
c. stavudin
(d4T) 30mg
d. efavirens
(EFV) 200mg dan 600mg
e. nevirapine
(NVP) 200mg
|
2
NRTI + 1 NNRTI
|
Terapi antiretroviral dimulai dengan salah satu dari
paduan ARV di bawah ini:
|
AZT+3TC+NVP
|
Zidovudin+lamivudine+
nevirapine
|
Atau
|
|
AZT+3TC+AFV
|
Zidovudin+lamivudine+efavirenz
|
Atau
|
|
TDF+3TC
(Atau FTC) +NVP
|
Tenofovir+lamivudine
(atau emtricitabine)+ nevirapine
|
Atau
|
|
TDF+3TC
(atau FTC) +EFV
|
Tenofovir+lamivudine
(atau emtricitabine)+ efavirens
|
Atau
|
Panduan lini pertama yang direkomendasikan pada orang
dewasa yang belum pernah mendapat terapi ARV adalah sebagai berikut:
|
Populasi
Target
|
Pilihan
yg direkomendasikan
|
Catatan
|
|
Dewasa
dan anak
|
AZT atau
TDF + 3TC + EFV atau NVP
|
Merupakan
pilihan paduan yg sesuai u/ sebagian besar pasien. Gunakan FDC jika tersedia
|
|
Perempuan
hamil
|
AZT
+ 3TC + EFV atau NVP
|
Tidak
boleh menggunakan EFV pd trimester I. TDF bs jadi pilihan
|
|
Ko-infeksi
HIV/TB
|
AZT atau TDF +
3TC + EFV atau NVP
|
Mulai terapi
ARV segera setelah terapi TB dapat ditoleransi (antara 2 – 8 mgg). Gunakan
NVP atau triple NRT bila EFV tdk dapat digunakan
|
|
Ko-infeksi
HIV/Hepatitis B
|
TDF
+ 3TC + EFV atau NVP
|
Pertimbangkan
pemeriksaan HBsAg terutama bila TDF merupkn paduan lini pertama. Diperlukan
penggunaan 2 ARV yg memiliki aktivitas anti HBV.
|
2.
ARV Lini Kedua
ARV lini kedua dikonsumsi
oleh penderita yang sudah resisten dengan ARV lini pertama. Yang
termasuk ARV lini kedua adalah sebagai berikut:
a. Tenofovir
(TDF)
b. Lopinavir/ritonavir
(LPV/r)
c. Didanosine
(ddI)
d. Abacavir
(ABC)
|
2NRTI
+ boosted-PI
|
Adapun rekomendasi paduan untuk lini kedua adalah:
Boosted PI adalah satu obat dari
golongan Protease Inhibitor (PI) yang sudah ditambahi (boost) dengan Ritonavir
sehingga obat tersebut akan ditulis dengan kode ..../r (misal LPV/r = Lopinavir/ritonavir).
Penambahan (booster) dengan ritonavir ini dimaksudkan untuk mengurangi dosis
dari obat PI-nya karena kalau tanpa ritonavir maka dosis yang diperlukan
menjadi sangat tinggi.
|
TDF
atau AZT + 3TC + LPV/r
|
Paduan lini kedua yang direkomendasikan
dan disediakan secara gratis oleh pemerintah adalah:
Apabila pada Lini Pertama
menggunakan d4T atau AZT maka gunakan TDF + 3TC atau FTC sebagai dasar NRTI
pada lini kedua. Dan apabila pada lini pertama menggunakan TDF maka gunakan AZT
+ 3TC sebagai dasar NRTI pada lini kedua.
Sedangkan paduan obat ARV
yang tidak dianjurkan untuk dikonsumsi adalah sebagai berikut:
|
Paduan
ARV
|
Alasan
tidak dianjurkan
|
|
1. Mono atau dual terapi untuk pengobatan
infeksi HIV kronis
2. d4T+AZT
3. d4T+ddl
4. 3TC+FTC
5. TDF+3TC+ABC atau TDF+3TC+ddl
6. TDF+ddl+NNRTI manapun
|
1. Cepat
menimbulkan resinten
2. Antagonis
(menurunkan khasiat kedua obat)
3. Toksisitas
tumpang tindih (pankreatitis, hepatitis dan lipoatrofi) , juga pernah
dilaporkan kematian pada ibu hamil
4. Bisa
saling menggantikan tetapi tidak boleh digunakan bersamaan
5. Panduan
tersebut meningkatkan mutasi K65R
6. Seringnya
kegagalan virologi secara dini
|
2.6
Alasan
Mengganti Obat ARV
1. Toksisitas
Toksisitas terkait dengan ketidakmampuan
untuk menahan efek samping dari obat, sehingga terjadi disfungsi organ yang
cukup berat. Hal tersebut dapat dipantau secara klinis, baik dari keluhan atau
dari hasil pemeriksaan fisik pasien, atau dari hasil pemeriksaan laboraturium,
tergantung dari macam kombinasi obat yang dipakai dam sarana pelayanan
kesehatan yang ada.Menurut Kementrian Kesehatan RI (2011) dalam Pedoman
Nasional Tatalaksana Klinis Infeksi HIV dan Terapi Antiretroviral pada Orang
Dewasa, terdapat banyak faktor yang dapat menyebabkan timbulnya efek samping,
antara lain:
a. Jenis
kelamin (contoh: NVP lebih sering menyebabkan reaksi hipersensitifitas pada
wanita dengan jumlah CD4>250 sel/mm3.
b. Karakteristik
obat( contoh efek samping NVP bersifat dose-related pada awal pengobatan sehingga
diberikan lead in-dose).
c. Digunakannya
dua atau lebih obat dengan toksisitas yang sama. Efek samping antara Rifampisin
dengan NVP yang keduanya bersifat hepatotoksik berpotensi menimbulkan
toksisitas ganda
d. Faktor
lain yang dapat menyebabkan timbulnya efek samping adalah karena belum
ditemukan dan diobatinya penyakit yang mendasarinya misalnya koinfeksi
hepatitis C.
e. Terdapat
beberapa keadaan yang mempunyai resiko yang lebih sering mengalami efek samping
obat sehingga perlu pemantauan terapi yang lebih ketat.
Menurut Kementerian Kesehatan RI (2011)
dalam Pedoman Nasional Tatalaksana Klinis Infeksi HIV dan Terapi
Antiretroviral pada Orang Dewasa, dalam menangani toksisitas atau efek samping
perlu mengikuti langkah sebagai berikut:
a. Tentukan
derajat keseriusan toksisitas
b. Evaluasi
obat lain yang digunakan dan tentukan apakah toksisitas berhubungan dengan obat
ARV atau obat non- ARV yang digunakan bersamaan.
c. Pertimbangkan
proses penyakit lain (misalkan hepatitis viral pada pasien dengan ARV yang
menjadi kuning/jaundice) karena tidak semua masalah yang terjadi selama terapi
adalah akibat obat ARV
d. Tangani
efek sesuai tingkat keparahan
e. Berikan
motivasi untuk tetap makan obat terutama untuk toksisitas ringan dan sedang
f. Berikan
obat simtomatik sesuai dengan gejala yang timbul jika diperlukan
g. Apabila
dinilai perlu penghentian ARV karena toksisitas yang mengancam jiwa maka semua
ARV harus dihentikan sampai pasien stabil.
2. Kegagalan
terapi
Kegagalan terapi dapat
didefenisikan secara klinis dengan menilai prkembangan penyakit secara
imunologis dengan perhitungan CD4, dan atau secara virologis dengan mengukur
viral-load.
Penilaian klinis perkembangan
penyakit harus dibedakan dengan sindrom pemulihan kekebalan (Immuno
Reconstitution Inflamatory Sindrome/ IRIS), yaitu keadaan yang dapat muncul
pada awal pengobatan ARV. Sindrom ini ditandai dengan timbulnya suatu respon
inflamasi terhadap infeksi oportunistik yang semula subklinik. Keadaan tersebut
terjadi terutama pada pasien denga gangguan kekebalan tubuh yang telah lanjut.
Kembalinya fungsi imunologi dapat pula menimbulkan gejala atipik dari infeksi
oportunistik.
Menurut Kementerian Kesehatan RI
(2011) dalam Pedoman Nasional Tatalaksana Klinis Infeksi HIV dan Terapi
Antiretroviral pada Orang Dewasa, kegagalan terapi menurut WHO yaitu sebagai
berikut:
a. Kegagalan
klinis
Munculnya IO dari kelompok stadium
4 minimal setelah 6 bulan dalam terapi ARV. Beberapa penyakit yang termasuk
dalam stadium 3 (TB paru, infeksi bakteri berat) juga dapat menunjukkan
kegagalan terapi.
b. Kegagalan
imunologis
Defenisi dari kegagalan imunologis
adalah gagal mencapai dan mempertahankan
jumlah CD4 yang adekuat,
walaupun telah terjadi penurunan/penekanan jumlah virus. Jumlah CD4 juga dapat
digunakan untuk menentukan apakah perlu mengubah terapi atau tidak.
c. Kegagalan
virologis
1)
Viral load tetap >
5000 copies/ml atau
2) Viral
load menjadi terdeteksi lagi setelah sebelumnya tidak terdeteksi.
Kriteria klinis untuk gagal terapi
yang timbul dalam 6 bulan pertama pengobatan tidak dapat dijadikan dasar untuk
mengatakan gagal terapi. Perlu dilihat kemungkinan penyebab lain timbulnya
keadaan klinis tersebut, misal IRIS.
Kriteria dimasukkan dalam
menentukan kegagalan terapi yaitu untuk mengantisipasi suatu saat akan tersedia
sarana pemeriksaan viral load yang terjangkau. Viral load masih merupakan
indikator yang paling sensitif dalam menentukan adanya kegagalan terapi.
2.7
Efek
Samping ARV
Menurut Kementerian Kesehatan RI
(2011) dalam Pedoman Nasional Tatalaksana Klinis Infeksi HIV dan Terapi
Antiretroviral pada Orang Dewasa,efek samping obat adalah salah satu penyebab
morbiditas, dirawatnya pasien dan mortalitas. Hal tersebut juga berpengaruh
pada kepatuhan pasien terhadap rencana terapi. Karena itu pendeteksian dini
efek samping adalah hal kritis. Berikut ini adalah golongan obat dan efek
samping yang ditimbulkannya:
1.
NRTI (Nucleiside
Reverse Transcriptase Inhibitor)
|
Nama
Obat
|
Efek
Samping
|
|
AZT
|
Terjadi
pigementasi pada kuku, mual, steanosis, miopati, lipodistrifu, dislipidemia,
hiberlaktaemia dan anemia
|
|
D4T
|
Pankreatitis,
steanosis, neuropati perifer, lipodistrofi, dislipidemia, hiberlaktaemia
|
|
Ddl
|
Pankreatitis,
steanosis, fibrosis hati, penyakit jantung iskemik, neuropati perifer,
lipodistrofi, dislipidemia, hiberlaktaemia
|
|
3TC
|
Laktat
asidosis, neuropati perifer berat
|
|
FTC
|
Laktat
asidosis
|
|
ABC
|
Rash,
penyakit jantung iskemik, reaksi hipersensitif sistemik
|
|
TDF
|
Osteomalasia,
penurunan GFR, sindrom fanconi
|
2. NNRTI (Non-Nucleiside
Reverse Transcriptase Inhibitor)
|
Nama
Obat
|
Efek
Samping
|
|
EFV
|
Rash,
hepatitis, gangguan pola tidur, ansietas, dislipidemia, gynaecomastia,
teratogenik
|
|
NVP
|
Rash,
hepatitis, reaksi hipersensitifitas sistemik
|
3. PI
(Protease Inhibitor)
|
Nama
Obat
|
Efek
Samping
|
|
LVP/r
|
Diare,
penyakit jantung iskemik, lipodistrofi, displipidemia, gangguan metabolisme
glukosa
|
KESIMPULAN
3.1
Kesimpulan
Setelah diagnosis infeksi HIV
ditegakkan, tatalaksana selanjutnya adalah melakukan penilaian stadium klinis,
penilaian imunologi (pemeriksaan jumlah CD4), pemeriksaan Lab. Sebelum memulai terapi,
persyaratan lain sebelum memulai terapi ARV, dan pengobatan pencegahan dengan
kotrimoksasol (PPK).
ARV adalah obat yang menghambat
replikasi HIV. Tujuan pemberian ARV adalah menekan secara maksimum dan
berkelanjutan terhadap jumlah virus, pemulihan atau pemeliharaan fungsi
imunologik, perbaikan kualitas hidup, pengurangan morbiditas dan mortalitas
penderita HIV. Obat ARV terdiri atas tiga golongan utama, yaitu NRTI, NNRTI,
dan PI.
3.2
Saran
Adapun saran penulis terhadap
pembaca yaitu agar sekiranya memahami materi ini sebaik-baiknya sehingga
nantinya mampu memberikan pelayanan kesehatan paripurna pada pasien, terutama
pasien dengan infeksi HIV.
DAFTAR PUSTAKA
Departemen
kesehatan RI. 2006. Pedoman pelayanan
kefarmasian untuk orang dengan HIV/AIDS. Jakarta.
Husnu,
siti annisa. 2013. Farma Arv
Product Specification. Bandung.
Kementerian
Kesehatan RI. 2011. Pedoman Nasional
Tatalaksana Klinis Infeksi HIV dan Terapi Antiretroviral pada Orang Dewasa.
Jakarta.
Strauss
Levi. 2011. Program HIV Karyawan
Pedoman Hidup Positif DenganHIV/AIDS. San Fransisco, California.
Komentar
Posting Komentar